Gebyok jati : sejarah dan filosofinya

Gebyok adalah media untuk menyekat atau alat pemisah ruang yang terbuat dari kayu. Letaknya biasanya berada di antara ruang depan atau tamu dan ruang belakang yang dipakai sebagai ruang privacy atau keluarga.

Karena menggunakan bahan utama dari kayu untuk pembuatannya, gebyok ini biasanya juga dilengkapi dengan ornament atau hiasan berupa ukiran motif tradisional yang biasanya diaplikasikan pada bagian pinggri, samping dan atas. Engga cuman itu gan, gebyok juga dibuat dengan konsep dua lapis.

Bagian lapis yang pertama untuk menempatkan gebyok itu sendiri, kemudian lapis yang kedua untuk menempatkan pintu yang merupakan akses keluar dan masuk pada ruang yang ada di belakangnya.

Selain menjadi media penyekat atau pemisah ruang yang lain, penggunaan gebyok punya kelebihan khusus yaitu bisa menghadirkan kesan yang lebih mewah khas tradisional. Jadi klo pengen rumah agan jadi lebih mewah dengan mempunyai ciri khas budaya jawa jangan segan segan untuk memakai Gebyok ini.

Catatan : Untuk pemesanan siahkan kunjungi situs resmi nya melalui tautan link berikut ini : gebyok jati

Sejarah gebyok jati


Gebyok bukan hanya kerajinan melainkan mengandung makna. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, pemimpin Jepara pada abad ke 16, gebyok telah diciptakan dan menjadi masterpice. Gebyok ini mencerminkan pemikiran dan perasaan estetik maupun etik. Gebyok bukan semata-mata bentuk yang tidak ada artinya.

Gebyok menunjuk pada kebijakan manusia. Gebyok diciptakan untuk meraih tujan praktis, etis, dan estetik. Sebagai kebutuhan praktis, gebyok adalah sebagai rumah yang layak. Walaupun penuh ukiran, tetapi tidak meninggalkan kekuatan sebagai penyangga rumah juga. Dan rumah ini bukan rumah biasa. Melainkan rumah yang terhormat. Betapa tidak, untuk menciptakan gebyok diperlukan kayu pilihan serta tenaga ahli yang cukup serta waktu yang cukup.

Gebyok ini pernah menjadi simbol kekayaan di kudus. Gebyok banyak dipakai di rumah Kudus sebelum tahun 1810 M, menjadi simbol kejayaan dan kekayaan pemiliknya. Lingkungan Kudus Kulon diciptakan sebagai tempat khusus rumah tradisional kudus.

Sebelumnya, seni ukir kudus didominasi oleh bunga teratai. Hal ini bisa dimengerti karena pada saat itu, pada zaman dahulu, agama mayoritas warga Kudus adalah agama Hindu. Sunan Kudus, penyebar Islam tanah Jawa, memperkenalkan ukiran dari bunga melati.

Bunga melati berukuran kecil, putih dan wangi. Arti dari melati sebagai perlambang bahwa penganut agama Islam pada waktu itu berjumlah kecil, namun bisa memberikan wewangian bagi sekeliling. Melati dalam gebyok dibikin menyatu sama lain, dan juga menyatu dengan komponen yang lain.

Makna simbolik dari kedekatan ini adalah umat islam dan umat dari beragama lain sebaiknya bersatu membangun kedamaian, walaupun berbeda agama dan pendapat.
Ukir kayu pada gebyok kayu membutuhkan kemahiran tingkat tinggi. Sampai sekarang, kemahiran ini tidak pudar. Pengrajin gebyok banyak ditemukan di Jepara dan Kudus. Darimanakah mereka membangun kemahiran ukir ini?

Asal Mula Kemahiran Ukir

Kudus sekarang lebih dikenal sebagai kota rokok, sedangkan Jepara sebai kota ukir. Sebelum Jepara terkenal sebagai kota ukir, kota Kudus terlebih dahulu terkenal sebagai pusat ukir. Ukiran diperkenalkan kepada masyarakat Kudus saat imigran terkenal dari kota Yunan – China, The Ling Sing, datang di abad ke 15.

Dia datang ke Kudus tidak hanya menyebarkan agama Islam tetapi juga mengajarkan seni ukir kayu. Ukirannya dikenal dengan sebutan, Sung Ging, yang terkenal kehalusannya serta adikarya yang menakjubkan.

The Ling Sing kemudian dikenal sebagai mubaligh (penyebar Islam) yang dikenal dengan nama Kiai Telingsing. Nama ini kini diabadikan menjadi nama jalan besar di Kota Kudus. Di Kudus juga terdapat kampung yang bernama Sunggingan, diperkirakan dari sebutan Kiai Telingsing. Dari abad ke 16 sampai abad 18, pengrajin ukir kayu Kudus menerima berbagai pesanan untuk membangun rumah kayu.

Bahan utamanya kayu jati dengan kualitas terbaik yang disupplai dari hutan Blora, Tuban, dan, Tuban dan Bojonegoro. Pada abad ke 19, jati dengan kualitas terbaik semakin jarang, sehingga menyurutkan minat mereka untuk mengembangkan keahliannya.

Kemahiran ukir yang masih bertahan hingga sekarang berada di Jepara, kota tetangga Kudus. Kemahiran ukir warga Jepara sangat terkenal dan bertahan hingga sekarang. Sentra pembuat gebyok pun terletak di kota Jepara, yang berdekatan dengan kabupaten Kudus.
Tidak berarti Jepara melanjutkan tradisi Kudus. Jepara juga punya tradisi ukir yang tua. Kalau guru ukir Kudus adalah Kiai The Ling Sing, guru ukir warga Jepara adalah Tji Wie Gwan atau Sun Ging Badar Duwung.

Karya Tji Wie Gwan ini adalah ornamen masjid Mantingan, yang dibangun pada tahun 1559. Kemudian Sunging Badar Duwung ini mengajarkan kerajinan ukir pada kayu pada warga Jepara, dan kemahiran itu dipertahankan secara turun temurun, sampai sekarang.

Filosofi gebyok jawa

Gebyok yang baik adalah yang ukirannya detail, halus, memiliki ukiran dalam dengan tingkat kesulitan tinggi, tiga dimensi, kualitas kayu yang digunakan sebagai bahan baku gebyok pada umumnya memang merupakan jenis kayu yang tahan cuaca, kayu yang sudah tua sehingga cenderung lebih kuat dan awet untuk dijadikan dekorasi yang indah menawan.

Dengan segala keunikannya, gebyok sebagai partisi khas Jawa yang memiliki nilai estetika, bernilai seni tinggi tidak akan ditemukan di tempat atau daerah lain kecuali di tanah Jawa seperti di daerah Jepara dan Kudus. Gebyok dapat disandingkan dengan furniture berbahan kayu lainnya baik yang memiliki ornamen atau tidak.

Kursi meja tamu baik bergaya klasik atau kontemporer atau Kursi besar panjang lebar (bale-bale) berbahan kayu jati itu juga menambah suasana Jawa. Bisa juga dipadukan dengan furniture berbahan besi dengan unsur ukiran, ada banyak juga rumah modern mengaplikasikan penyekatnya dengan unsur gebyok dalam interior modern sah-sah saja, sungguh fenomenal dan begitu kontras antara desain tradisional dengan modern.

Kini gebyok menjadi warisan budaya Indonesia yang tidak lekang oleh jaman. Gebyok penuh metafor dan pesan tentang kebijakan hidup tentang kesejahteraan hidup. Sejahtera bukan di dunia saja melainkan di akhirat. Tumbuhnya kesadaran dan kebanggaan akan warisan budaya daerah, ikut serta menciptakan kegairahan dalam memelihara dan mengembangkan budaya gebyok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *